Saturday, 25 April 2015

MAKALAH BUDI DAYA TANAMAN KELAPA SAWIT

BAB I
PENDAHULUAN
1.1   Latar Belakang
    Kelapa sawit (Elaeis guinensis jack) merupakan salah satu jenis tanaman perkebunan yang menduduki posisi terpenting di sektor pertanian, hal ini dikarenakankelapa sawit mampu menghasilkan nilai ekonomi terbesar per hektarnya jika dibandingkan dengan tanaman penghasil minyak atau lemak lainya . Selain itu kelapa sawit juga memiliki banyak manfaat yaitu sebagai bahan bakar alternatif Biodisel, bahan pupuk kompos, bahan dasar industri lainnya seperti industri kosmetik, industri makanan, dan sebagai obat.Prospek pasar bagi olahan kelapa sawit cukup menjanjikan, karena permintaan dari tahun ke tahun mengalami peningkatan yang cukup besar, tidak hanya di dalam negeri, tetapi juga di luar negeri. Oleh sebab itu, sebagai negara tropis yang masih memiliki lahan yang cukup luas, Indonesia berpeluang besar untuk mengembangkan perkebunan kelapa sawit.
Saya memilih lokasi penanaman di kota Riau karena lokasinya yang cukup luas.Riau memiliki tanah mineral masam yang pada umumnya memiliki kandungan bahan organik yang rendah sehingga sumber energi bagi mikroorganisme di dalam tanah tidak tersedia menyebabkan aktivitas mikroorganisme menjadi berkurang sehingga proses perombakan di dalam tanah menjadi berkurang pula. Upaya dalam mengatasi masalah adalah dengan penambahan unsur hara ke dalam tanah(pemupukan) dan melakukan pengapuran dalam meningkatkan pH tanah serta penambahan bahan organik seperti tandan kosong kelapa sawit untuk meminimalisir biaya ekonomi.
1.2   Tujuan
Adapun tujuan dari pembuatan makalah budidaya tanaman kelapa sawit ini antara lain :
1. Mengetahui cara budidaya tanaman kelapa sawit dengan baik dan benar
2. Mengetahui dan memahami syarat tumbuh dari kelapa sawit
3. Mengetahui  estimasi produksi panen kelapa sawit
BAB II
PEMBAHASAN

A.             Botani dan Syarat Tumbuh Kelapa Sawit
   Kelapa sawit yang tumbuh tegak lurus dapat mencapai ketinggian 15 – 20 meter. Tanaman berumah satu (monoecious) karena bunga jantan dan bunga betina terdapat pada satu pohon.Bunga kelapa sawit terdiri dari bunga jantan dan bunga betina. Bunga jantan memiliki bentuk lancip dan panjang sementara bunga betina terlihat lebih besar dan mekar (Setyamidjaja,.2006).Akar tanaman kelapa sawit mempunyai sistem perakaran serabut. Jika aerasi cukup baik, akar tanaman kelapa sawit dapat menembus kedalaman 8 m di dalam tanah, sedangkan yang tumbuh ke samping dapat mencapai radius 16 m (Sastrosayono, 2003)
   Batang tanaman diselimuti bekas pelepah hingga umur 12 tahun. Setelah umur 12 tahun pelepah kelapa sawit yang mengering akan terlepas sehingga menjadi mirip dengan tanaman kelapa. Daun kelapa sawit merupakan daun majemuk yang di bagian pangkal pelepah daun terbentuk dua baris duri yang sangat tajam dan keras di kedua sisinya. Anak-anak daun (foliage leaflet) tersusun berbaris dua sampai ke ujung daun. Buah  kelapa  sawit  terdiri  atas  beberapa  bagian,  yaitu  eksokarp,  perikarp, mesokarp, endokarp, dan kernel. Mesokarp yang masak mengandung 45  – 50 % minyak dan berwarna merah kuning karena mengandung karoten. Buah sawit mempunyai warna bervariasi dari hitam, ungu, hingga merah tergantung bibit yang digunakan (Sunarko, 2007).
1.            Syarat Tumbuh Kelapa Sawit
Habitat aslinya kelapa sawit adalah daerah semak belukar. Tanaman ini tumbuh sempurna di ketinggian 1-500 mdpl dengan kelembaban 80-90% dan kecepatan angin 5-6 km/jam untuk membantu proses penyerbukan. Sawit membutuhkan iklim dengan curah hujan stabil, 2000-2500 mm setahun. Pola curah hujan tahunan memengaruhi perilaku pembungaan dan produksi buah sawit.Tanaman kelapa sawit memerlukan penyinaran antara 5-7 jam/hari. Temperatur optimal untuk pertumbuhan kelapa sawit 24°C – 28°C.
Kelapa sawit dapat tumbuh  pada jenis tanah Podzolik, Latosol, Hidromorfik Kelabu, Alluvial atau Regosol, tanah gambut saprik, dataran pantai dan muara sungai. Produksi kelapa sawit lebih tinggi jika di tanam di daerah bertanah Podzolik. Kemiringan lahan kebun kelapa sawit sebaiknya tidak lebih dari 15°. Jika kemiringan lahan sudah melebihi 15° maka diperlukan tindakan konservasi tanah berupa pembuatan terasan, tapak kuda, rorak dan parit kaki bukit.
2.            Kesesuaian lahan
Lahan yang  sesuai  untuk  kelapa  sawit  dapat  berupa  hutan  primer dan  sekunder,  semak belukar,  bekas  perkebunan  komoditas lain  (karet,  kelapa,  kakao),  padang  alang-alang,  atau  bahkan bekas kebun  tanaman pangan  (jagung,  singkong, padi gogo), serta  kebun  kelapa  sawit  tua  (peremajaan).  Teknik pembukaan  lahan  dapat  dilakukan  secara manual, mekanis, kimia atau kombinasi, tergantung keadaan vegetasinya.
a. Ketinggian Tempat : Tanaman kelapa sawit bisa tumbuh dan berbuah hingga ketinggian tempat 1000 mdpl. Namun, untuk produktivitas optimalnya diketinggian 400m dpl.
b. Topografi : Baik dikemiringan lereng 0°-12° atau 21%. Lahan yang kemiringannya 13°-25° masih bisa ditanami kelapa sawit, tetapi petumbuhannya kurang baik. Untuk lahan yang kemiringannya >25° sebaiknya tidak dipilih karena menyulitkan dalam pengangkutan buah saat panen dan beresiko terjadi erosi.
c. Drainase : Kelapa sawit memerlukan oksigen sehingga tidak menyukai daerah yang tergenang. Drainase yang jelek dapat menghambat kelancaran penyerapan unsur hara dan proses nitrifikasi , sehingga tanaman akan kekurangan unsur nitrogen (N).
d. Tanah : Kelapa sawit dapat tumbuh di tanah podsolik, latosol, hidromorfik kelabu, regosol, andosol, dan alluvial. Tanah gambut juga dapat di tanami kelapa sawit asalkan ketebalan gambutnya tidak lebih dari satu meter dan sudah tua (saphrik). Sifat tanah yang perlu di perhatikan untuk budi daya kelapa sawit adalah sebagai berikut :
*      Sifat Fisik Tanah : Tanaman kelapa sawit dapat tumbuh baik di tanah yang bertekstur lempung berpasir, tanah liat berat, tanah gambut memiliki ketebalan tanah lebih dari 75 cm, dan berstruktur kuat.
*      Sifat Kimia Tanah : Untuk mendapatkan produksi yang tinggi dibutuhkan kandungan unsur hara yang tinggi dan pH tanah bereaksi dengan asam dengan kisaran nilai 4,0-6,0 dan ber pH optimum 5,0-5,5.
     3. Kesesuaian iklim
                Menurut Mangoensoekarjo (2007) Sawit dapat tumbuh dengan baik di daerah tropis (15° LU – 15° LS). Curah hujan optimal untuk tanaman kelapa sawit adalah 1 250 – 2 500 mm/tahun. Kelapa  sawit  lebih toleran  dengan  curah  hujan  yang  tinggi  dibandingkan  dengan  jenis  tanaman lainnya. Jumlah bulan kering  lebih dari 3 bulan merupakan  faktor pembatas berat. Adanya bulan kering  yang panjang dan curah hujan  yang  rendah  akan  menyebabkan  terjadinya  defisit  air. Keadaan angin tidak terlalu berpengaruh karena kelapa sawit lebih tahan terhadap angin kencang di bandingkan tanaman lainnya (Pusat Penelitian Kelapa Sawit, 2006).
     4.Rencana.budidaya
1.Pemilihan.Benih,.Varietas.dan.Bentuk.Benih
Secara garis besar ada 3 (tiga) jenis benih kelapa sawit yang dibudidayakan menurut ketebalan dagingnya yaitu Dura, Pisifera dan Tenera.Benih yang saya pilih adalah benih jenis Tenera. Tenera dihasilkan dari persilangan antara induk Dura dan jantan Pisifera. Jenis ini dianggap bibit unggul sebab melengkapi kekurangan masing-masing induk dengan sifat cangkang buah tipis namun bunga betinanya tetap fertil. Beberapa tenera unggul memiliki tempurung yang tipis (3-20%), ukuran biji sedang (3-15%), persentase daging per buahnya mencapai 90%, kandungan minyak per tandannya dapat mencapai 28%. Cara penyemaiannya, kecambah dimasukkan polibag 12×23 atau 15×23 cm berisi 1,5-2,0 kg tanah lapisan atas yang telah diayak. Kecambah ditanam sedalam 2 cm. Tanah di polibag harus selalu lembab. Simpan polibag di bedengan dengan diameter 120 cm. Setelah berumur 3-4 bulan dan berdaun,4-5,helai.bibit,dipindahtanamkan.
Bibit dari dederan dipindahkan ke dalam polibag 40×50 cm setebal 0,11 mm yang berisi 15-30 kg tanah lapisan atas yang diayak.
2. Penyiapan lahan.
1.            Pembukaan Lahan
Dilakukan dengan cara membuat jalan rintisan untuk pengukuran, membuat petak- petak hektaran(blok),menebang pohon berdiameter lebih dari 3 inch menggunakan chainsaw. Batang pohon yang sudah di tebang, dipotong menjadi ukuran yang lebih kecil dan di tumpuk agar lebih mudah kering. Untuk rencana peremajaan, semua dahan dan ranting dari pohon yang sudah di tebang di potong sepanjang 5 meter lalu di tumpuk menurut barisan yang teratur. Tanggul atau sisa pohon bekas penebangan liar yang letaknya bertepatan dengan lubang tanaman harus di bongkar
1.            Pengolahan Tanah
Pengolah tanah dilakukan dengan cara membersihkan lahan dari gulma menggunakan traktor dengan dua rotasi yang berurutan berupa pembajakan dan penggarukan, arahnya tegak lurus atau paling tidak sedikit menyilang. Sementara itu, interval antara rotasi minimum dilakukan dalam dua minggu.
2.            Pembuatan Jalan, Parit, dan Teras
Pembuatan Jalan dilakukan dengan cara mengorek, menimbun, mengeraskan bagian lapangan, membuat bentang, dan membuat parit di sebelah kiri-kanan jalan. Jalan utama dan jalan produksi dibuat dengan bulldozer dan atau grader. Jalan sepanjang 1 km dibuat dalam waktu 40-80 jam kerja dengan pemakaian bahan bakar 80 liter/jam kerja. Selanjutnya, jalan di padatkan dengan menggunakan alat pemadat (bomag). Pekerjaan ini umumnya dilakukan pada akhir musim hujan. Pembuatan parit dikerjakan dengan menggali tanah sesuai ukuran dasar. Tanah galiannya di buang ke tempat tertentu.Saluran air di daerah berbukit berupa saluran kebun dan saluran utama yang menyalurkan air ke saluran drainase alam (sungai). Saluran kebun di buat setiap 16 baris tanaman kelapa sawit dan di buat menurut kontur lahan. Saluran utama di buat dengan lebar bagian atas 150 cm, lebar bagian bawah 80 cm. saluran kebun di buat dengan lebar bagian atas 90 cm, lebar bagian bawah 60 cm, dan kedalaman 60 cm. Teras individu di buat menggunakan mal berbentuk tapak kuda dengan muka teras menhadap kearah lereng bukit. Ukuran teras 3 m x 3 m, jarak antara ajir tanaman dan tepi muka teras selebar 1,25 m.
3. Penanaman
Penentuan.Pola,Tanaman
Pola tanam menggunakan sistem monokultur. Tanaman penutup tanah (legume cover crop LCC) pada areal tanaman kelapa sawit sangat penting karena dapat memperbaiki sifat-sifat fisika, kimia dan biologi tanah, mencegah erosi, mempertahankan kelembaban tanah dan menekan pertumbuhan tanaman pengganggu (gulma). Penanaman tanaman kacang-kacangan sebaiknya dilaksanakan segera setelah persiapan lahan selesai.
Pembuatan.Lubang,Tanam
Pembuatan lubang dilakukan secara mekanis. Lubang  tanam  disiapkan  2  –  4 minggu  sebelum  tanam,  sebaiknya  paling  lambat  4 minggu. Ukuran  lobang  berkisar  antara  60  dan  90  cm  dengan kedalaman  60  cm,  tergantung  kondisi  tanah.  Jika  tanah gembur  dan  subur,  cukup  60  x  60  x  60  cm,  tetapi  kalau tanahnya lebih padat atau berliat dan kurang subur, sebaiknya ukuran lobang lebih besar.Jarak tanam yang direkondasikan adalah 9x9x9 m sistem persegi panjang. Penggalian  lubang dilakukan pada titik ajir sedemikian rupa sehingga ajir berada tepat  di  tengah  lubang  tanam.  Buat  tanda  batas  penggalian dengan  tongkat  berukuran  tadi  sebelum  ajir  dicabut  untuk penggalian  lubang.  Setelah  lubang  selesai,  ajir  harus dikembalikan pada posisi tepat di tengah lubang. Tanah galian dipilah  dua  yaitu  lapisan  atas  (top  soil)  dan  lapisan  bawah (sub  soil)  serta meletakkannya  terpisah pada  sisi  lubang yang berbeda    (kiri – kanan atau utara –  selatan) dalam  arah yang konsisten.
Cara,Penanaman
Penanaman pada awal musim hujan yaitu bulan Oktober dan bulan November, setelah hujan turun dengan teratur. Sehari sebelum tanam, siram bibit pada polibag. Lepaskan plastik polybag hati-hati dan masukkan bibit ke dalam lubang. Taburkan Natural GLIO yang sudah dikembangbiakkan dalam pupuk kandang selama + 1 minggu di sekitar perakaran tanaman. Segera ditimbun dengan galian tanah atas. Siramkan POC NASA secara merata dengan dosis ± 5-10 ml/ liter air setiap pohon atau semprot (dosis 3-4 tutup/tangki). Lalu gunakan 1 botol SUPER NASA yang diencerkan dalam 2 liter (2000 ml) air. Kemudian setiap 1 liter air diberi 10 ml larutan induk tadi untuk penyiraman setiap pohon.
B.  Estimasi produksi
a. Kriteria Matang Panen
Kelapa sawit mulai berbuah setelah 2,5 tahun dan masak 5,5 bulan setelah penyerbukan. Dapat dipanen jika tanaman telah berumur 31 bulan, sedikitnya 60% buah telah matang panen, dari 5 pohon terdapat 1 tandan buah matang panen. Ciri tandan matang panen adalah sedikitnya ada 5 buah yang lepas/jatuh dari tandan yang beratnya kurang dari 10 kg atau sedikitnya ada 10 buah yang lepas dari tandan yang beratnya 10 kg atau lebih. Tanaman dengan umur kurang dari 10 tahun, jumlah brondolan kuran lebih 10 butir dan tanaman dengan umur lebih 10 tahun, jumlah brondolan sekitar 15-20 butir. Tanaman kelapa  sawit akan menghasilkan  tandan buah segar  (TBS) yang dapat  dipanen  pada  saat  tanaman  berumur  3  atau  4  tahun. Produksi  TBS  yang dihasilkan akan  terus bertambah  seiring  bertambahnya umur dan akan mencapai produksi  yang  optimal dan maksimal  pada  saat  tanaman  berumur  9 –  14  tahun, dan  setelah  itu  produksi TBS  yang  dihasilkan  akan mulai menurun. Umumnya, tanaman kelapa  sawit akan optimal menghasilkan TBS hingga  berumur 25 – 26 tahun.
b. Cara Panen
Pemanenan dilakukan untuk umur <7 tahun  menggunakan alat dodos dengan lebar 10-12,5 cm dengan gagang pipa besi atau tongkat kayu dan untuk kelapa sawit umur >7 tahun menggunakan egrek yang disambung dengan pipa alumunium atau batang bambu. Untuk memudahkan pemanenan, sebaiknya pelepah daun yang menyangga buah dipotong terlebih dahulu dan diatur rapi di tengah gawangan. Tandan buah yang matang dipotong sedekat mungkin dengan pangkalnya, maksimal 2 cm. Brondolan harus bersih dan tidak tercampur tanah atau kotoran lain. Selanjutnya tandan dan brondolan dikumpulkan di TPH.
c.  Panen Pertama
Pemanenan pertama dilakukan setelah 4 tahun dengan hasil produksi 0,5ton/ha perbulannya. ). Per kilo 1700 rb. 0,5 ton (500 kg) x 1700 = 850 rb.
Hasil akan naik seiring dengan umur tanaman, berikut perkiraannya :
Tahun ke 6 – 10 => 1,2 ton – 1,5 ton per HA tiap bulan
Tahun ke 11 – 15 => 1,6 ton – 2,5 ton per HA tiap bulan
 Jadi pada tahun ke 4 bisa mendapatkan hasil panen per HA per bulan sekitar 700 rb per bulan. Jika dihitung secara sederhana 700 rb x 36 bulan = 25 jt-an.Modal yang dikeluarkan sekitar 17 jt per HA sampai umur 4 th. Ada selisih 8 jt-an yang bisa dipakai untuk ongkos produksi selama 3 th tersebut (dari umur 4 th – 7 th).JADI ESTIMASI saya pada umur 7 th atau setelah sawit menghasilkan yaitu umur 4 th, dimana ini berarti ada masa 3 tahun yang dibutuhkan supaya BEP setelah panen.
Masa BEP yang sebenarnya sendiri saat umur 7 th. Setelah umur 7 tahun dimana hasil yang didapat untuk tiap HA juga naik sedang biaya produksi untuk pupuk, pemangkasan daun, penyemprotan relative sama dengan sebelum 4 th. Biaya yang naik adalah biaya ongkos panen dan ongkos transportasi (biaya untuk mengangkut hasil panen) sampai pabrik.Dalam keadaan yang optimal, produktivitas kelapa sawit dapat mencapai 20-25 ton TBS/ha/tahun atau sekitar 4-5 ton minyak sawit.






BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Pada umumnya tanaman kelapa sawit tumbuh pada lahan semak belukardengan ketinggian 1-500 mdpl dengan kelembaban 80-90% dan kecepatan angin 5-6 km/jam untuk membantu proses penyerbukan. Sawit membutuhkan iklim dengan curah hujan stabil, 2000-2500 mm setahun. Pola curah hujan tahunan memengaruhi perilaku pembungaan dan produksi buah sawit.Tanaman kelapa sawit memerlukan penyinaran antara 5-7 jam/hari. Temperatur optimal untuk pertumbuhan kelapa sawit 24°C – 28°C. Kelapa sawit dapat tumbuh  pada jenis tanah Podzolik, Latosol, Hidromorfik Kelabu, Alluvial atau Regosol, tanah gambut saprik, dataran pantai dan muara sungai. Produksi kelapa sawit lebih tinggi jika di tanam di daerah bertanah Podzolik jika dibandingkan dengan tanah berpasir dan gambut. Kemiringan lahan kebun kelapa sawit sebaiknya tidak lebih dari 15°. Jika kemiringan lahan sudah melebihi 15° maka diperlukan tindakan konservasi tanah berupa pembuatan terasan, tapak kuda, rorak dan parit kaki bukit.
Tanaman kelapa sawit mulai berbuah setelah 2,5 tahun dan masak 5,5 bulan setelah penyerbukan. Dapat dipanen jika tanaman telah berumur 31 bulan, sedikitnya 60% buah telah matang panen, dari 5 pohon terdapat 1 tandan buah matang panen. Ciri tandan matang panen adalah sedikitnya ada 5 buah yang lepas/jatuh dari tandan yang beratnya kurang dari 10 kg atau sedikitnya ada 10 buah yang lepas dari tandan yang beratnya 10 kg atau lebih. Tanaman dengan umur kurang dari 10 tahun, jumlah brondolan kuran lebih 10 butir dan tanaman dengan umur lebih 10 tahun, jumlah brondolan sekitar 15-20 butir. Tanaman kelapa  sawit akan menghasilkan  tandan buah segar  (TBS) yang dapat  dipanen  pada  saat  tanaman  berumur  3  atau  4  tahun.
Pemanenan pertama dilakukan setelah 4 tahun dengan hasil produksi 0,5ton/ha perbulannya. ). Per kilo 1700 rb. Hasil akan naik seiring dengan umur tanaman, dapat diperkirakan pada Tahun ke 6 – 10 adalah  1,2 ton – 1,5 ton per HA tiap bulan dan tahun ke 11 – 15 adalah  1,6 ton – 2,5 ton per HA tiap bulan

DAFTAR PUSTAKA
Anonymousa, 2013. http://www.google.com/Estimasi-produksi-kelapa-sawit.html diakses pada tanggal 07 April 2013
Anonymous,2013.http://www.google.com/Budidaya-Tanaman-Kelapa-Sawit.html diakses pada tanggal 07 April 2013
Lubis,  A,U.  1992.Kelapa  sawit  (Elais  guineensis  Jacq.)  di Indonesia.  Pusat  Penelitian  Perkebunan,Marihat-Bandar Kuala.435 hal
Mangoensoekarjo,S. dan H. Semangun. 2000. Manajemen Agrobisnis Kelapa Sawit. Gadjah Mada University Press. Yogyakarta. 605 Hal.
Purba, R.Y.,  Susanto, A.,  Sudharto, P. 2005.  Serangga Hama Kelapa Sawit. Pusat Penelitian Kelapa Sawit. Medan. 29 hal.
Sastrosayono, S., 2003. Budidaya Kelapa Sawit. Agromedia Pustaka, Jakarta.
Setyamidjaja, D. 2006. Budidaya Kelapa Sawit. Kanisius. Yogyakarta. 62 Hal.
Sunarko,  2007.  Petunjuk  Praktis  Budidaya  dan  Pengolahan  Kelapa  Sawit. Agromedia Pustaka, Jakarta.



Industri pengolahan Sawit
Guru: Ibar, S.pd

 
http://3.bp.blogspot.com/-b7WPNGhBOnc/VCox2qbaxII/AAAAAAAAAXM/Qjcq19lFKYQ/s1600/logo.jpg
 Di Susun
O
L
E
H
Ibar Rocker
   
 KELAS:XII IPS 1
SMA N 2 NGABANG
KABUPATEN LANDAK
2014/2015


BAB 1
PENDAHULUAN
§  Latar Belakang

Di Indonesia, tanaman kelapa sawit banyak dikebunkan oleh perusahaan-perusahaan besar, baik pemerintah maupun swasta. Bahkan masyarakat pun banyak bertanam kelapa sawit. Hal ini menunjukkan bahwa tanaman kelapa sawit sangat cocok tumbuh di Indonesia. Jika Indonesia ditargetkan untuk menjadi negara penghasil minyak kelapa sawit terbesar di dunia, tentunya banyak  orang-orang yang mengelolanya, mulai dari pembibitan, penanaman sampai ke teknik pengelolahan hasil panen harus berlaku profesional.

§  Tujuan

Tujuan dari pembuatan makalah ini adalah sebagai berikut.
o   Sebagai bahan kajian siswa mengenai panen dan penanganan pasca panen pada tanaman kelapa sawit.
o   Sebagai cara untuk mempelajari berbagai cara panen dan penanganan pasca panen pada tanaman kelapa sawit.
o   Sebagai syarat untuk melaksanakan tugas individu dari guru pembimbing.

§  Rumusan Masalah

o   Apa itu Kelapa Sawit ?
o   Bagaimana karakteristik dari Kelapa Sawit ?
o   Bagaimana sejarah penyebaran Kelapa Sawit di Indonesia ?
o   Bagaimana cara pemasaran Kelapa Sawit ?
o   Apa saja kandungan yang terdapat dalam Kelapa Sawit ?
o   Apa saja manfaat Kelapa Sawit ?
o   Bagaimana cara pembudidayaan dan cara pemeliharaan Kelapa Sawit ?
o   Apa sajakah hasil olahan yang dihasilkan dari Kelapa Sawit ?


BAB 2
PEMBAHASAN
§  Pengertian Kelapa Sawit

Kelapa sawit (Elaeis) adalah tumbuhan industri penting penghasil minyak masak, minyak industri, maupun bahan bakar (biodiesel). Perkebunannya menghasilkan keuntungan besar sehingga banyak hutan dan perkebunan lama dikonversi menjadi perkebunan kelapa sawit.

§  Karakteristik Kelapa Sawit

1.    Daun
Daunnya merupakan daun yang majemuk. Berwarna hijau tua dan pelapah berwarna sedikit lebih muda. Penampilannya sangat mirip dengan tanaman salak, hanya saja dengan duri yang tidak terlalu keras dan tajam. bentuk daunnya termasuk majemuk menyirip, tersusun rozet pada ujung batang.

2.   Batang
Batang tanaman  diselimuti bekas pelapah hingga umur 12 tahun. Setelah umur 12 tahun pelapah yang mengering akan terlepas sehingga menjadi mirip dengan tanaman kelapa.

3.   Akar

Akar serabut tanaman kelapa sawit mengarah ke bawah dan samping. Selain itu juga terdapat beberapa akar napas yang tumbuh mengarah ke samping atas untuk mendapatkan tambahan aerasi.

4.   Bunga

Bunga jantan dan betina terpisah dan memiliki waktu pematangan berbeda sehingga sangat jarang terjadi penyerbukan sendiri. Bunga jantan memiliki bentuk lancip dan panjang sementara bunga betina terlihat lebih besar dan mekar.
Tanaman sawit dengan tipe cangkang pisifera bersifat female steril sehingga sangat jarang menghasilkan tandan buah dan dalam produksi benih unggul digunakan sebagai tetua jantan

5.   Buah

Buah sawit mempunyai warna bervariasi dari hitam, ungu, hingga merah tergantung bibit yang digunakan. Buah bergerombol dalam tandan yang muncul dari tiap pelapah.

Kandungan minyak bertambah sesuai kematangan buah. Setelah melewati fase matang, kandungan asam lemak bebas (FFA, free fatty acid) akan meningkat dan buah akan rontok dengan sendirinya.

Kelapa sawit mengandung kurang lebih 80% perikarp dan 20% persen buah yang dilapisi kulit yang tipis, kadar minyak dalam perikarp sekitar 34 - 40 persen.

Buah terdiri dari tiga lapisan:

a.       Eksoskarp, bagian kulit buah berwarna kemerahan dan licin.

b.      Mesoskarp, serabut buah

c.       Endoskarp, cangkang pelindung inti

                                
§  Sejarah Perkembangan Kelapa Sawit di Indonesia

Pada awalnya bangsa Portugis mengenal tanaman kelapa sawit saat melakukan perjalanan ke Pantai Gading (Ghana). Mereka heran ketika menyaksikan penduduk setempat menggunakannya untuk memasak dan sebagai bahan kecantikan. Tanaman kelapa sawit masuk ke Indonesia dan daerah-daerah lain di Asia sebagai tanaman hias sekitar tahun 1848. Daerah pertama di Indonesia yang diketahui sangat cocok untuk membudidayakan tanaman kelapa sawit ini adalah Sumatera Utara.

Perkebunan kelapa sawit di Indonesia dilakukan oleh beberapa perusahaan perkebunan kelapa sawit. Di pulau Sumatera saja hingga tahun 1920 sudah puluhan perusahaan perkebunan yang menanam kelapa sawit. Masa suram bagi tanaman kelapa sawit sempat terjadi pada waktu penjajahan Jepang, yang mengakibatkan kebun kelapa sawit diganti dengan tanaman pangan. Hal itu menyebabkan pabrik-pabrik pengolahan tidak lagi berproduksi.

Potensi areal perkebunan Indonesia masih terbuka luas untuk tanaman kelapa sawit. Upaya perluasan perkebunan komoditas kelapa sawit dilaksanakan dengan jangkauan daerah penanaman meluas ke luar dari daerah serta kelapa sawit sebelumnya, yaitu dengan membangun perkebunan-perkebunan baru di Kalimantan, Sulawesi, dan Papua. Data menunjukkan kecendrungan peningkatan luas areal perkebunan kelapa sawit, khususnya perkebunan rakyat.


§  Pemasaran Kelapa Sawit

Tanaman kelapa sawit merupakan komoditi yang sangat menguntungkan, sehingga perluasan areal sangat maju pesat. Industri pengolahan kelapa sawit di Indonesia terus mengalami peningkatan. Sejumlah pabrik dengan kapasitas produksi minyak sawit CPO (Crude Palm Oil) tersebar hampir di seluruh provinsi di Indonesia.

Pemasaran produk kelapa sawit pada perkebunan besar negara dilakukan secara bersama melalui kantor pemasaran yang sudah ditunjuk bersama, sedangkan untuk perkebunan besar swasta, pemasaran dilakukan oleh masing-masing perusahaan. Pada umumnya perusahaan besar, baik negara maupun swasta menjual produk kelapa sawit dalam bentuk olahan, yaitu minyak sawit mentah (CPO) dan minyak inti sawit (PKO). Penjualan langsung kepada eksportir ataupun ke pedagang atau industri dalam negeri.

Perkebunan kelapa sawit yang dikelola oleh rakyat yang hasil produksinya terbatas, penjualan sulit dilakukan apabila ingin menjualnya langsung ke industri pengolah. Oleh karena itu, petani harus menjualnya melalui pedagang tingkat desa atau melalui KUD, kemudian berlanjut ke pedagang besar hingga ke industri pengolah. Penjangnya rantai pemasaran hasil perkebunan rakyat ini menyebabkan tingkat keuntungan yang diperoleh para petani relatif kecil.

§  Kandungan yang Terdapat dalam Kelapa Sawit

Kelapa sawit merupakan minyak nabati yang penting, di samping kelapa, kacang-kacangan, jagung, bunga matahari, dan sebagainya. Komoditas kelapa sawit merupakan komoditas perdagangan yang menjanjikan. Minyak kelapa sawit mampu menghasilkan berbagai hasil industri hilir yang dibutuhkan manusia, seperti minyak goreng, mentega, sabun, kosmetik, dan lain sebagainya.

Minyak kelapa sawit yang mengandung asam lemak jenuh dan tidak jenuh dalam proses selanjutnya akan menghasilkan fraksi olein, stearin, dan fatty acid. Olein dipergunakan untuk pembuatan minyak goreng, stearin digunakan untuk pembuatan mentega, sedangkan fatty acid dalam pengembangannya dapat digunakan sebagai bahan dasar oleokimia.

§  Manfaat Kelapa Sawit

Hasil utama tanaman kelapa sawit adalah minyak sawit atau yang sering dikenal dengan nama CPO (Crude Palm Oil) dan inti sawit. Minyak sawit dapat dimanfaatkan di berbagai industri karena memiliki susunan dan kandungan gizi yang cukup lengkap. Industri yang banyak menggunakan minyak sawit sebagai bahan baku adalah industri pangan, industri kosmetik, dan farmasi. Bahkan minyak sawit telah dikembangkan sebagai sakah satu bahan bakar.

Hasil penelitian mengungkapkan bahwa minyak sawit memiliki keuntungan dibandingkan dengan minyak nabati lainnya. Keunggulan tersebut antara lain:

a.    Menjadi sumber minyak nabati termurah karena efisiensi minyak kelapa sawit ini tinggi.

b.    Dibanding minyak lainnya, minyak kelapa sawit mempunyai produktivitas yang tinggi.

c.    Dibanding minyak nabati lainnya, minyak kelapa sawit mempunyai manfaat yang lebih luas, baik pada industri pangan, maupun pada industri non pangan.

d.    Kandungan gizi minyak kelapa sawit lebih unggul daripada minyak nabati lainnya.

§  Cara Pembudidayaan Kelapa Sawit

1.  Syarat Tumbuh

Sebagai tanaman yang dibudidayakan, tanaman kelapa sawit memerlukan kondisi lingkungan yang baik atau cocok, agar mampu tumbuh subur dan dapat berproduksi secara maksimal. Faktor-faktor yang dapat mempengaruhi pertumbuhan kelapa sawit antara lain keadaan iklim dan tanah. Selain itu, faktor yang juga dapat mempengaruhi pertumbuhan kelapa sawit adalah faktor genetis, perlakuan budidaya, dan penerapan teknologi.


a.  Iklim

·         Curah Hujan dan Kelembaban

Tanaman kelapa sawit dapat tumbuh dengan di daerah tropik, dataran rendah yang panas, dan lembab. Curah hujan yang baik adalah 2.500-3.000 mm per tahun yang turun merata sepanjang tahun. Daerah pertanaman yang ideal untuk bertanam kelapa sawit adalah dataran rendah yakni antara 200-400 meter di atas permukaan laut. Pada ketinggian tempat lebih 500 meter di atas permukaan laut, pertumbuhan kelapa sawit ini akan terhambat dan produksinya pun akan rendah.

·         Penyinaran Matahari

Lama penyinaran matahari yang baik untuk kelapa sawit adalah 7-5 jam per hari.pertumbuhan kelapa sawit di Sumatera Utara terkanal baik karena berkat iklim yang sesuai yaitu lama penyinaran matahari yang tinggi dan curah hujan yang cukup. Umumnya turun pada sore atau malam hari.

·         Suhu

Suhu merupakan faktor penting untuk pertumbuhan dan hasil kelapa sawit. Suhu rata-rata tahunan daerah-daerah pertanaman kelapa sawit berada antara 25-27 0C, yang menghasilkan banyak tandan. Variasi suhu yang baik jangan terlalu tinggi. Semakin besar variasi suhu semakin rendah hasil yang diperoleh. Suhu, dingin dapat membuat tandan bunga mengalami merata sepanjang tahun.

b.  Tanah

Pertumbuhan dan produksi kelapa sawit dalam banyak hal bergantung pada karakter lingkungan fisik tempat pertanaman kelapa sawit itu dibudidayakan. Jenis tanah yang baik untuk bertanam kelapa sawit adalah tanah latosol, podsolik merah kuning, hidromorf kelabu, aluvial, dan organosol/gambut tipis.
Kesesuaian tanah untuk bercocok tanam kelapa sawit ditentukan oleh dua hal, yaitu sifat-sifat fisis dan kimia tanah.

·         Sifat Fisis Tanah

Pertumbuhan kelapa sawit akan baik pada tanah yang datar atau sedikit miring, solum dalam dan mempunyai drainase yang baik, tanah gembur, subur, permeabilitas sedang, dan lapisan padas tidak terlalu dekat dengan permukaan tanah.
Tanah yang baik bagi pertumbuhan juga harus mampu menahan air yang cukup dan hara yang tinggi secara alamiah maupun hara tambahan. Tanah yang kurang cocok adalah tanah pantai berpasir dan tanah gambut tebal. Dalam menentukan batas-batas yang tajam mengenai kesesuaian sifat fisis tanah di antara tipe-tipe tanah memang relatif sulit.

·         Sifat Kimia Tanah

Tanaman kelapa sawit dapat tumbuh baik pada tanah pH 4,0-6,5 dan pH optimumnya antara 5,0-5,5. Tanah yang memiliki pH rendah biasanya dijumpai pada daerah pasang surut, terutama tanah gambut. Tanah organosol atau gambut mengandung lapisan yang terdiri atas lapisan mineral dengan lapisan bahan organik yang belum terhumifikasi lebih lanjut memiliki pH rendah.

§  Cara Pemeliharaan Kelapa Sawit

Pemeliharaan tanaman merupakan hal yang sangat penting dalam usaha budidaya tanaman karena menentukan masa perkembangan dan pertumbuhan tanaman. Perawatan tidak hanya ditujukan pada tanamannya, tetapi juga pada media tanah pada lahan pertanaman tersebut. Perawatan tanaman kelapa sawit meliputi penyulaman, pembuatan piringan, penanaman tanaman sela, pengendalian gulma, pemangkasan, pemupukan, dan penyerbukan buatan.

§  Hasil Olahan dari Kelapa Sawit

Hasil utama tanaman kelapa sawit adalah minyak sawit atau yang sering dikenal dengan nama CPO (Crude Palm Oil) dan inti sawit. Minyak sawit dapat dimanfaatkan di berbagai industri karena memiliki susunan dan kandungan gizi yang cukup lengkap. Industri yang banyak menggunakan minyak sawit sebagai bahan baku adalah industri pangan, industri kosmetik, dan farmasi. Bahkan minyak sawit telah dikembangkan sebagai salah satu bahan bakar.
Hasil penelitian mengungkapkan bahwa minyak sawit memiliki keuntungan dibandingkan dengan minyak nabati lainnya. Keunggulan tersebut antara lain:

1.     Menjadi sumber minyak nabati termurah karena efisiensi minyak kelapa sawit ini tinggi.

2.    Dibanding minyak lainnya, minyak kelapa sawit mempunyai produktivitas yang tinggi.

3.    Dibanding minyak nabati lainnya, minyak kelapa sawit mempunyai manfaat yang lebih luas, baik pada industri pangan, maupun pada industri non pangan.

4.    Kandungan gizi minyak kelapa sawit lebih unggul daripada minyak nabati lainnya.



BAB 3
PENUTUP

§  Kesimpulan

Dari Karya Ilmiah yang telah dibuat dapat ditarik kesimpulan bahwa :

a.    Tanaman kelapa sawit merupakan tanaman yang dibudidayakan yang memerlukan kondisi lingkungan yang baik atau cocok, agar mampu tumbuh subur dan dapat berproduksi secara maksimal.

b.    Faktor-faktor yang dapat mempengaruhi pertumbuhan kelapa sawit antara lain keadaan iklim dan tanah.

c.    Cara pemeliharan tanaman Kelapa Sawit meliputi penyulaman, pembuatan piringan, penanaman tanaman sela, pengendalian gulma, pemangkasan, pemupukan, dan penyerbukan buatan.

d.    Hasil Olahan yang dihasilkan oleh kelapa sawit, diantaranya adalah industri pangan, industri kosmetik, dan farmasi.


§  Saran

Kita hendaknya memelihara dan memanfaatkan Kelapa Sawit dengan baik,  karena apabila kelapa sawit diolah dengan tepat, maka akan membuat keutungan yang cukup besar bagi negara. 

DAFTAR PUSTAKA


Sastrosayono, S., 2003. Budidaya Kelapa Sawit. Agromedia Pustaka, Jakarta.
Setyamidjaja, D. 2006. Budidaya Kelapa Sawit. Kanisius. Yogyakarta. 62 Hal.
Sunarko,  2008.  Petunjuk  Praktis  Budidaya  dan  Pengolahan  Kelapa  Sawit. Agromedia Pustaka, Jakarta.
Setyamidjaja dan Djoehana. 1991. Budidaya Kelapa sawit. Kanisius. Yogyakarta
Pahan, I. 2006. Panduan Lengkap Kelapa Sawit. Penebar Swadaya. Jakarta. 410hal.
Perangin-angin, S.A. 2006. Pengendalian Gulma di Kebun Kelapa Sawit (Elaeis
guinensis Jacq.) Kawan Batu Estate, PT. Teguh Sempurna, Minamas  Plantation, Kalimantan Tengah.
Zaman, F.F.S.B. 2006. Manajemen Pengendalian Hama dan penyakit pada Tanaman Belum Mengahasilkan di Perkebunan Kelapa Sawit (Elaeis guinensis Jacq.) PT.
4

LAPORAN BUDIDAYA TANAMAN CABE

BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang
            Tanaman Cabai (Capsicum annuum L.) adalah tumbuh-tumbuhan perdu yang berkayu, dan buahnya berasa pedas yang disebabkan oleh kandungan kapsaisin. Saat ini cabai menjadi salah satu komoditas sayuran yang banyak di butuhkan masyarakat, baik masyarakat lokal maupun internasional. Setiap harinya permintaan akan cabai, semakin bertambah seiring dengan meningkatnya jumlah penduduk di berbagai negara. Budidaya ini menjadi peluang usaha yang masih sangat menjanjikan, bukan hanya untuk pasar lokal saja namun juga berpeluang untuk memenuhi pasar ekspor (Santika, 2008).
            Jenis cabai juga cukup bervariasi, beberapa jenis di bedakan berdasarkan ukuran, bentuk, rasa pedasnya dan warna buahnya. Di Indonesia jenis cabai yang banyak dibudidayakan antara lain cabai keriting, cabai besar, cabai rawit, dan cabai paprika (Anonim, 2013).
            Dalam budidaya cabai salah satu hal yang perlu diperhatikan untuk meningkatkan produksi adalah pemilihan jenis cabai. Cabai keriting mempunyai kelebihan tahan terhadap kelembapan udara. Cabai keriting memiliki beberapa manfaat selain dijadikan sebagai bahan penyedap makanan, cabai keriting juga bisa dimanfaatkan menjadi berbagai macam produk olahan seperti saos cabai, sambel cabai, pasta cabai, bubuk cabai, cabai kering, dan bumbu instant. Bahkan produk-produk tersebut sudah berhasil diekspor ke Singapura, Hongkong, Saudi Arabia, Brunei Darussalam dan India.
            Budidaya Cabai Keriting memberikan keuntungan yang menarik, tetapi budidaya cabai keriting juga sering menemui kegagalan dan kerugian besar. Untuk menghindari kegagalan tersebut, dilakukan aplikasi teknologi yang tepat guna, yaitu Teknologi Enzymatis. Teknologi Enzymatis merupakan teknologi baru yang sangat tepat untuk menghadapi permasalahan yang ada pada budidaya cabai (Santika, 2008).

  1. Tujuan Praktek Kerja Lapangan
1.      Tujuan Umum
a.       Menerapkan teori yang telah didapatkan di akademik
b.      Melatih mahasiswa agar mendapatkan ketrampilan dan pengalaman dalam kegiatan pertanian
c.       Menambah pengalaman tentang pembibitan cabai keriting
2.      Tujuan Khusus
a.    Mengetahui dan mempelajari bagaimana kegiatan pembibitan cabai keriting di trubus.
b.    Mengetahui lebih jauh dari proses pembibitan hingga siap tanam.

  1. Manfaat Praktek Kerja Lapangan
1.      Mendapatkan pengetahuan dari lapangan secara langsung
2.      Mendapatkan pengetahuan tentang pembibitan cabai keriting
3.      Mendapatkan wawasan bagaimana merintis suatu usaha terutama di bidang pertanian
4.      Mendapatkan pengetahuan bagaimana memasarkarkan suatu produk terutama dalam bidang pertanian









BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A.       Botani Tanaman Cabai
Cabai merupakan tanaman semusim (annual) yang tumbuhnya tegak dengan batang  berkayu dan bercabang serta tergolong tumbuhan yang  menghasilkan biji (spermatophyta) dalam dunia tumbuhan Plantanum. Menurut Rahman (2010), tanaman cabai dapat diklasifikasikan sebagai berikut:
Kingdom         : Plantae (Tumbuhan)
Sub Kingdom  : Tracheobionta (Tumbuhan berpembuluh)
Super Divisi     : Spermatophyta (Menghasilkan biji)
Divisi               : Magnoliophyta (Tumbuhan berbunga)
Kelas               : Magnoliopsida (Berkeping dua)
Sub Kelas        : Asteridae
Ordo                : Solanales
Familia             : Solanaceae
Famili              : Solanaceae (Suku terung-terungan)
Genus              : Capsicum
Spesies             : Capsicum annuum L

Berdasarkan pertumbuhan akarnya, cabai keriting mempunyai akar tunggang yang kuat dan membentuk percabangan ke samping yang disebut akar serabut. Akar serabut dapat menembus tanah sampai kedalaman 50 cm dan perkembangan ke samping selebar 45 cm (Setiadi, 2006). Hal ini tidak berbeda jauh dengan pendapat Prajnanta (2007) dalam Arifin (2010), yang menyatakan bahwa perakaran tanaman cabai rawit tergolong akar tunggang yang terdiri atas akar utama (primer) dan akar lateral (sekunder). Akar lateral mengeluarkan serabutserabut akar (akar tersier). Panjang akar primer berkisar 3550 cm dan akar lateral menyebar dengan panjang sekitar 35 45 cm.
Pertumbuhan batang utama cabai keriting yaitu tegak lurus dan kokoh mencapai tinggi sekitar 30 37,5 cm dengan diameter batang antara 1,5 3 cm. Batang utama tanaman cabai keriting berkayu dan berwarna coklat kehijauan serta pembentukan kayu pada batang utama mulai terjadi mulai umur 30 hari setelah tanam (HST). Pada setiap ketiak daun akan tumbuh tunas baru yang dimulai pada umur 10 hari setelah tanam, namun tunastunas ini sebaiknya dihilangkan sampai batang utama menghasilkan bunga pertama tepat diantara cabang primer. Cabang primer ini yang terus dipelihara dan tidak dihilangkan sehingga bentuk percabangan dari batang utama ke cabang primer berbentuk huruf Y dan cabang primer akan menghasilkan  cabang sekunder (Prajnanta, 2007 dalam Arifin, 2010).
Pertambahan panjang cabang menurut Prajnanta (2007) dalam Arifin (2010) diakibatkan oleh pertumbuhan kuncup ketiak daun secara terusmenerus dan pertumbuhan ini disebut pertumbuhan simpodial. Dari cabang sekunder akan membentuk percabangan tersier dan seterusnya. Pada akhirnya terdapat kirakira 7 15 cabang per tanaman (tergantung varietas). Jika tanaman masih sehat maka pembungaan pertama dapat dilanjutkan ke tahap pembungaan kedua, sehingga jumlah cabang mencapai 21 – 23.
Daun cabai keriting berwarna hijau muda sampai hijau gelap (tergantung varietasnya) dengan panjang 4 - 10 cm dan lebar 1,5 - 4 cm . Daun ditopang oleh tangkai daun dan tulang daun berbentuk menyirip. Secara keseluruhan bentuk daun cabai adalah lonjong dengan ujung daun yang meruncing (Hadiyanto, 2005).
Posisi bunga cabai keriting biasanya menggantung dengan warna mahkota bunga putih dan memiliki 5 – 6 kelopak bunga dengan panjang bunga 1 – 1,5 cm, lebar 0,5 cm dan panjang tangkainya 1 - 2 cm. Tangkai putik berwarna putih, panjangnya sekitar 0,5 cm. Warna kepala putik kuning kehijauan, tangkai sari berwarna putih, tetapi yang dekat dengan warna kepala sari ada bercak kecoklatan. Panjang tangkai sari 0,5 cm dengan warna kepala sari berwarna biru atau ungu (Hadiyanto, 2005).
Panjang  buah cabai keriting dari  tangkai  hingga  ujung  buah mencapai 3,7 – 5,3 cm, dan buahnya berukuran kecil. Biji cabai keriting yang  masih  muda  berwarna  kuning, namun setelah  tua berubah warna  menjadi  coklat. Biji cabai keriting berbentuk  pipih dengan diameter  ± 4  mm serta memiliki rasa  buah  yang  pedas dan dapat mengeluarkan air mata bagi orang yang menciumnya. Cabai keriting memiliki rasa yang pedas karena mengandung capsicol (Setiadi, 2006).
Tanaman cabai keriting sangat cocok ditanam pada ketinggian 0 – 500 m dpl dengan suhu antara 190 – 300 C dan curah hujan 1.000 – 3.000 m m/tahun.
Tanaman cabai membutuhkan tanah yang gembur dan banyak mengandung unsur hara serta dapat tumbuh optimal pada tanah regosol dan andosol dengan pH tanah antara 6 - 7. Untuk menghindari genangan air pada lahan, Untuk penanaman cabai keriting lebih baik pada lahan yang agak miring dengan tingkat kemiringan tidak lebih dari 250. Lahan yang terlalu miring dapat menyebabkan erosi dan hilangnya pupuk, karena tercuci oleh air hujan (Rahman, 2010).

B.       Varietas Cabai :
1.      TM-999
Varietas cabai keriting Hibrida ini memiliki pertumbuhan yang sangat kuat dan kokoh. Jenis ini memiliki keunggulan fisik tahan hama dan buah cabai yang optimal. Pembungaannya berlangsung terus-menerus sehingga dapat dipanen dalam jangka waktu yang panjang. Ukuran buahnya 12,5 cm x 0,8 cm dengan berat buah 5-6 gram. Rasanya sangat pedas, cocok untuk digiling dan dikeringkan. Hasil per tanaman berkisar 0,8-1,2 kg.

2.      TM 888
Varietas hibrida ini memiliki sosok tanaman yang besar dan daun lebih lebar dari TM 999. Adaptasi yang baik terhadap kondisi lingkungan yang panas, tahan serangan Phytophthora dan Antraknosa. Panjang buah 13,5 x 1,4 cm dengan berat buah 7-8 gram.
3.      SALERO
Berpenampilan menarik seperti umumnya cabai keriting lokal. Varietas ini memiliki adaptasi penanaman yang cukup luas dengan produktivitas per hektar cukup tinggi.
4.      TARO
Varietas Taro mempunyai ukuran buah yang sedikit lebih besar dibandingkan cabai keriting TM-999. Sosok tanamannya besar dan kekar dengan ruas percabangan panjang. Tanaman ini mampu berproduksi baik di dataran rendah sampai menengah ( sampai 1000 m dpl). Hasil per tanaman berkisar 0,75-1,2 kg, tergantung kondisi terakhir tanaman.
5.      KUNTHI
Mempunyai bentuk buah keriting, kulit kasar, ujung runcing, rasa pedas dan seragam seperti cabai keriting lokal. Tanaman kokoh dan dapat beradaptasi di dataran rendaah, sedang sampai tinggi. Masa panennya panjang sehingga produksi buahnya pun tinggi dengan potensi hasil 20 ton per hektar. Kualitas buah yang bagus menyebabkan varietas ini di konsumsi segar dalam bentuk cabai hijau maupun merah dan dapat dikeringkan.
6.      CTH-01
 Cabai keriting hibrida ini mempunyai bentuk buah yang benar-benar keriting. Cabai ini mulai banyak ditanam petani, meskipun selama ini pengembangannya masih bertumpu pada daerah dataran rendah, namun cabai CTH-01 sebenarnya mampu berproduksi dan tumbuh dengan baik di dataran menengah hingga tinggi. Selain itu tahan terhadap penyakit antraknose buah dan mudah perawatannya. Cabai ini cocok untuk konsumsi segar maupun dikeringkan, dengan produksi per hektanya mampu mencapai lebih dari 20 ton.
7.      HOT BEAUTY
Varietas cabai besar ini sering disebut dengan cabai TW. Buahnya mempunyai ukuran 13 x 1,4 cm dengan bobot 7,5 gram per buah. Rasa kurang pedas dan warna merah menggiurkan. Bentuk buah besar dan daging buah yang tipis. Tetap segar selama satu minggu sejak petik. Masa panen lebih panjang dan dapat ditanam di dataran rendah atau tinggi.
8.      LONG CHILI
Ukuran buah lebih besar dari hot beauty dan hero. Buah berukuran 18 x 2 cm dan bobot 18 gram per buah. Warna buah merah menyala saat masak. Bentuk buah ramping, kulit mulus dan berdaging tebal. Mampu berproduksi 2 kg per tanaman. Hanya mampu berproduksi di dataran tinggi 800-1500 m dpl.
9.      HERO
Varietas ini berukuran 15 x 1.8 cm dan bobot rata-rata 16 gram per buah. Mampu berpraduksi 1,9-2,1 kg pertanaman. Cocok ditanam di daerah dengan ketinggian 400-800 m dpl, tapi bisa juga beradaptasi di dataran rendah
50-200 m dpl. Peka terhadap antraknosa, sehingga lebih baik ditanam pada musim kemarau.
10.  PRABU
Varietas ini sangat cocok dikembangkan di dataran rendah sampai menengah (0-800 m dpl). Penampakan tanaman kokoh dengan percabangan banyak serta bertajuk lebat dan kompak. Varietas ini mempunyai kemurnian genetis tinggi sehingga dalam satu hamparan pertanaman tampak seragam. Tahan terhadap serangan hama trips dan penyakit Antraksnosa. Buahnya silindris lurus, ujung runcing, padat, daging tebal, rasa pedas dan warnanya merah tua mengkilap pada saat masak. Panen perdana berlangsung sekitar 70-75 HST (hari setelah tanam) dengan hasil 1.0-1.5 Kg/tanaman atau sekitar 18-27 ton/ha. Buahnya tahan terhadap pengangkutan jarak jauh.
11.  MARATON
Varietas Maraton cocok di tanam di dataran rendah sampai menengah. Penampakan fisik tegak dan kokoh serta memiliki tajuk yang lebih lebat dan kompak. Varietas ini mempunyai kemurnian genetik tinggi, tahan terhadap seranaan penyakit layu Pseudomonas, Antraksnosa, dan bercak daun bakteri. Sangat cocok ditanam pada akhir musim kemarau atau musim hujan. Berat rata-rata per buah mencapai 12,5-14,3 gram. Panen perdana berlangsung sekitar 70-75 HST dengan hasil 1,0-1,5 Kg/tanaman atau sekitar 18-27 ton/ha. Buahnya tahan dalam penyimpanan dan transportasi jarak jauh.
12.  ARIMBI-513.
Memiliki penampilan yang kokoh serta cabang yang kekar dan lebar. Varietas ini relatif tahan terhadap serangan hama dan penyakit, terutama layu bakteri. Buahnya besar, halus ujung lancip, panjang 13 cm, diameter 2 cm, warna merah, kompak dan sangat berkualitas. Produksi buah berlangsung terus-menerus dan mulai dapat dipanen pada umur 80 HST. Rata-rata produksi 1,25-1,5 kg/tanaman atau 22,5-27,0 ton dengan populasi 18.000 tanaman per hektar. Buahnya tahan pengangkutan jarak jauh dan dapat dipasarkan lokal maupun ekspor.
13.  CAKRA PUTIH
 Varietas cabai rawit ini berwarna putih kekuningan yang berubah merah cerah saat masak. Pertumbuhan tanaman sangat kuat dengan membentuk banyak percabangan. Posisi buah tegak ke atas dengan bentuk agak pipih dan rasa sangat pedas. Mampu menghasilkan buah 12 ton per hektarnya dengan rata-rata 300 buah pertanaman, di panen pada umur 85-90 HST. Cakra putih ini tahan terhadap serangan penyakit Antraksnosa.


14.  CAKRA HIJAU
 Varietas cabai rawit ini mampu beradaptasi dengan baik di dataran rendah maupun tinggi. Saat tanaman muda buahnya berwarna hijau dan setelah masak berubah merah. Potensi hasilnya 600 gram per tanaman atau 12 ton per hektar. Rasanya pedas, tahan terhadap serangan hama dan penyakit yang biasa menyerang cabai. Masa panen yang lebih singkat sekitar  80-85 hari.

C.       Teknik Pembibitan Cabai Keriting
Cabai keriting adalah tumbuhan dari anggota genus Capsicum. Selain di Indonesia tanaman ini juga tumbuh dan popular sebagai bumbu masakan di Negara-negara asia tenggara lainnya. Bertanam cabai keriting dapat memberikan nilai ekonomi yang sangat tinggi apabila diusahakan dengan sungguh-sungguh, satu hektar tanaman cabai keriting dapat menghasilkan 8 ton buah cabai keriting (Nungardani, 2010).
Hal-hal yang perlu diperhatikan sebelum melakukan kegiatan pembibitan bibit cabai keriting:
1.      Persiapan lahan tanaman cabai kriting (Capsicum annuum L.)
a.       Sanitasi
Sanitasi merupakan langkah awal mengolah lahan pertanaman yaitu membersihkan segala macam tanaman yang tumbuh di areal  yang akan di tanami, sanitasi tanah dapat leluasa mendapatkan sinar matahari langsung sehingga dapat terbebas dari gangguan hama dan penyakit.
b.      Pembuatan Bedengan
Bedengan dibuat setelah tanah dicangkul dan diberi pupuk dasar yaitu pupuk kandang 5 ton/0,5 ha. Apabila tanah untuk pertanaman cabai kriting mempunyai derajat keasaman (pH) rendah maka tanah perlu diberikan kapur pertanian. Panjang bedengan sekitar 5-15 cm tergantung keadaan lahan. Tinggi bedengan sekitar 20-30 cm, jarak antar bedengan sekitar 40-50 cm tergantung pada lahan. Jarak tanam pada tanaman cabai keriting adalah 40×60 cm lubang tanam dibuat dengan cara ditugal. Bedengan bisa menggunakan mulsa atau pun tidak tergantung dari kebutuhan, Untuk bedengan bisa menggunakan mulsa Plastik Hitam Perak, kertas aluminium, daun, bambu, jerami, daun kelapa.
2.      Pemilihan benih
Pemilihan benih merupakan langkah awal yang sangat penting. Pemilihan benih yang tidak baik, hasilnya juga tidak baik juga. Bibit atau benih cabai harus sudah tersedia terlebih dahulu sebelum mulai mengerjakan lahan. Benih cabai dapat diperoleh dari toko pertanian setempat baik berupa varietas lokal atau varietas impor. Bibit cabai juga dapat diperoleh dengan cara mengambil biji dari cabai itu sendiri. Biji cabai tersebut di letakkan pada sebuah polybag yg sudah diisi campuran tanah dan pupuk kandang (satu polybag berisi satu biji cabai). Setelah sekitar 20-30 hari, bibit cabai akan muncul dan siap dipindahkan ke bedengan yg sudah disiapkan sebelumnya.
3.      Persemaian benih
Ukuran bedeng persemaian yang ideal adalah panjang 100 – 125 cm dan lebar 50 - 75 cm. Bedeng persemaian sebaiknya di buat di tempat yang teduh dan terlindung dari terik matahari. Jika sulit untuk mendapatkan tempat berlindung, bedengan dapat ditempatkan di tempat terbuka, tetapi diberi naungan. Naungan dibuat dengan posisi miring, salah satu sisinya lebih tinggi dari pada sisi lain. Sisi yang lebih tinggi menghadap ke sebelah timur. Setelah bedengan siap, benih dapat ditaburkan di atasnya, diatur dengan jarak 7 – 10 cm. Bertujuan untuk pengambilan tanah pada pangkal bibit saat dipindahkan ke polybag akan lebih mudah.
Media tanam yang digunakan untuk media persemaian adalah tanah yang subur dan mengandung banyak humus. Sebelum dibentuk bedengan tanah digemburkan agar bibit dapat tumbuh dengan leluasa. Jika di sekeliling tempat persemaian tidak di peroleh tanah yang subur, dapat dilakukan dengan pemberian pupuk kandang.
Pupuk organik yang digunakan berupa kotoran sapi yang sudah steril dan tersedia unsur hara yang cukup. Komposisi pupuk organik ini harus merata pada tanah bagian atas. Luas bedengan yang di gunakan adalah 100 cm x 50 cm maka pupuk organik yang di campurkan sebanyak 2-3 kg pupuk. Persemaian benih bisa dilakukan dengan polybag, disamping itu bisa dilakukan pada bedengan. Dibandingkan dengan bedengan dari lahan, keuntungan menggunakan polybag adalah saat pemindahan bibit cabai ke polybag besar dapat di lakukuan sesuai dengan keinginan, disamping itu kemungkinan matinya bibit setelah dipindahkan relatif kecil (Anonim, 2013).
4.      Pengendalian Hama dan Penyakit
Menurut Harpenas (2010) dalam Nurfalach (2010), salah satu faktor yang menghambat peningkatan produksi cabai adalah adanya serangan hama dan penyakit yang fatal. Kehilangan hasil produksi cabai karena serangan penyakit busuk buah (Colletotrichum sp), bercak daun (Cercospora sp) dan cendawan tepung (Oidium sp) berkisar 5% - 30%. Strategi pengendalian hama dan penyakit pada tanaman cabai dianjurkan dengan pengendalian secara terpadu.
Berikut ini merupakan hama dan penyakit yang sering menyerang pada tanaman cabai, yaitu :
a.         Hama
Beberapa hama yang sering menyerang dan mengakibatkan kerugian yang besar pada produksi cabai sebagai berikut:
1)        Ulat Grayak (Spodoptera litura)
Hama ulat grayak merusak pada musim kemarau dengan cara memakan daun mulai dari bagian tepi hingga bagian atas maupun bagian bawah daun cabai. Serangan ini menyebabkan daun-daun berlubang secara tidak beraturan atau hanya menyisakan tulang daun saja, sehingga proses fotosintesis terhambat dan produksi buah cabai turun.
2)        Kutu Daun (Myzus persicae Sulz)
Hama kutu Myzus persicae menyerang tanaman cabai dengan cara menghisap cairan daun, pucuk, tangkai bunga, dan bagian tanaman lainnya. Serangan berat menyebabkan daun-daun melengkung, keriting, belang-belang kekuningan (klorosis) dan akhirnya rontok, sehingga produksi cabai akan menurun.
3)        Lalat Buah (Bactrocera dorsalis)
Lalat buah menyerang buah cabai dengan cara meletakkan telurnya didalam buah cabai. Telur tersebut akan menetas menjadi ulat (larva) dan stadia ini yang merusak buah cabai.
4)        Thrips (Thrips sp)
Hama thrips menyerang hebat pada musim kemarau dengan memperlihatkan gejala serangan berbentuk strip-strip pada daun dan berwarna keperakan. Serangan yang berat dapat mengakibatkan matinya daun (kering). Thrips dapat juga berperan sebagai penular (vektor) penyakit virus.
b.             Penyakit
Selain hama, musuh tanaman cabai adalah penyakit yang umumnya disebabkan oleh jamur /cendawan dan bakteri. Berikut ini merupakan penyakit yang sering menyerang tanaman cabai, yaitu:
1)        Bercak Daun (Cercospora capsici heald et walf)
Penyakit ini berkembang pada musim hujan yang disebabkan oleh cendawan Colletotrichum capsici dan Gloeosporium piperatum. Colletotrichum capsisi  membentuk bercak coklat kehitaman yang kemudian menjadi busuk  lunak. Serangan bisa  menyebabkan buah mengering dan keriput. Sementara Gleosporium piperatum menyerang buah muda dan menyebabkan busuk pada bagian ujung buah. Pengendalian penyakit ini dengan cara rotasi tanaman dan menggunakan fungisida victory 80 wp (Soedarya, 2009).
2)        Busuk Phytophthora (Phytophthora capsici Leonian)
Busuk daun phytoptora disebabkan oleh Phytoptora capsici Leonian yang menyerang batang tanaman, sehingga akan menyebabkan busuk batang dengan warna cokelat hitam. Penyakit ini dapat dikendalikan secara manual dengan sanitasi lingkungan dan penggunaan fungisida (Hewindati ,2006 dalam Nurfalach, 2010).
3)        Antraknosa/Patek
Penyebab penyakit Antraknosa dapat terbawa dalam benih cabai. Gejala serangan berupa bercak hitam yang dapat meluas dan menyebabkan kebusukan pada buah cabai. Penyakit ini umumnya dikendalikan dengan menanam benih bebas patogen, membuang buah cabai yang terkena serangan atau dengan pemberian fungisida (Derasol 60 WP dicampur dengan Dithane M-45) (Hewindati ,2006 dalam Nurfalach, 2010).
4)        Layu Bakteri (Pseudomonas solanacearum (E.F) Sm)
Bakteri penyebab penyakit layu bakteri biasanya hidup di dalam jaringan batang, sehingga menyebabkan pemucatan tulang daun sebelah atas dan menyebabkan tangkai menunduk. Layu bakteri umumnya dikendalikan dengan mengkondisikan bedengan selalu kering atau pencelupan bibit ke larutan bakterisida, misal Agrymicin 1,2 gram/liter (Hewindati ,2006 dalam Nurfalach, 2010).


5)        Layu Fusarium (Fusarium oxysporium F. sp.)
Penyakit ini biasanya menyerang tanaman cabai yang ditanam pada tanah dengan pH rendah atau masam akibat dari gangguan spora cendawan. Gejala penyakit ini ditandai dengan pucatnya bagian tulang daun di sebelah atas kemudian diikuti tangkai menunduk. Apabila batas antara akar dan batang dipotong atau dikelupas terlihat cincin berwarna coklat kehitaman serta berkas pembuluh menjadi busuk dan basah. Pengendalian penyaki ini dengan cara pengapuran pada lahan sebelum penamaman untuk menaikkan pH yang diperlukan (Soedarya, 2009).













BAB III
PELAKSANAAN PRAKTEK KERJA LAPANGAN (PKL)

A.    Tempat Praktek Kerja Lapangan
Praktek kerja lapangan dilakukan di TRUBUS Jl. Kebon Agung Km.9 Bedingin, Sumberadi, Mlati, Sleman.

B.     Waktu Praktek Kerja Lapangan
Praktek kerja lapangan akan di laksanakan pada tannggal 01 Juli sampai dengan 30 Juli 2013.

C.    Metode Praktek Kerja Lapangan
1.      Studi Pustaka
Pengumpulan data-data yang menunjang dalam penyajian laporan hasil Praktek Kerja Lapangan dan sebagai dasar untuk menganalisis permasalahan di lapangan.
2.      Observasi
Yaitu kegiatan yang dilakukan di lapangan dengan cara mengamati dan meneliti secara langsung  bahan, alat, serta cara kerja atau sistem yang diterapkan di Trubus.
3.      Wawancara
Melakukan interaksi kepada nara sumber untuk mendapatkan informasi lebih jelas yang mungkin tidak ada dalam studi pustaka.
4.      Praktek Langsung
Melakukan kegiatan yang telah dipelajari secara teori dan menerapkan secara langsung.
5.      Pencatatan
Setelah semua tahap–tahap dilakukan pencatatan dan menyelesaikan laporan.
D.    Hasil Kegiatan
1.                                                                                        Persemaian cabai keriting.
a.    Persiapan persemaian cabai keriting.
1)   Arah persemaian menghadap ke timur dengan naungan atap plastik atau rumbia.
2)   Media tumbuh dari campuran tanah dan pupuk kandang atau kompos yang telah disaring dengan perbandingan 3:1.
3)   Media dimasukkan ke polibag bibit ukuran 4x6 cm.
4)   Menggunakan benih yang bersertivikat.
b.    Penyemaian cabai keriting.
1)   Biji cabai diletakkan satu persatu di setiap polybag.
2)   Lalu ditutup dengan selapis tanah yang sudah tercampur dengan pupuk kandang.
3)   Penyiraman dilakukan setiap hari pada pagi atau sore hari untuk menjaga kelembaban.
4)   Bagian atas polybag ditutup dengan plastik untuk menjaga kelembaban, mengurangi intensitas cahaya yang masuk dan untuk menghindari ke hujanan.
c.    Perkecambahan dan pensortiran cabai keriting.
1)   Setelah cabai berumur mulai 3 samapi 6 hari benih cabai mulai berkecambah.
2)   Ketika benih cabai mulai berdaun, buka plastik yang untuk menutupi polybag.
3)   Setelah cabai berumur 6 hari mulai pensortiran.
4)   Memisahkan bibit cabai yang sudah berkecambah dengan memisahkan bibit yang belum berkecambah dan yang terserang hama dan penyakit.
5)   Penyortiran dilakukan 2 hari sekali sampai bibit cabai berumur 21 hari.
6)   Setalah berumur 21 hari sudah dapat dipindah tanam.

2.    Hama dan Penyakit cabai keriting selama persemaian.
a.    Penyakit
1.    Rebah kecambah ( Dumping off ).
a)    Gejala :
1)      Tanaman mati karena batang busuk.
2)      Gejala dapat bermacam-macam tergantung dari umur dan stadia perkembangan semai jeruk.
3)      Benih menjadi busuk sebelum berkecambah atau sebelum muncul dipermukaan tanah.  
4)      Benih yang terinfeksi ini menyebabkan kualitas benih buruk (daya kecambah rendah). Busuk pangkal
5)      Busuk pangkal batang pada perkembangan semai benih terutama pada bagian yang dekat dengan tanah.
6)      Rhizoctonia solani menyebabkan pembusukan semai yang dekat dengan permukaan tanah bagian busuk berwarna coklat. Serangan Pythium sp. selalu dimulai dari ujung akar (akar pokok dan atau akar lateral). Serangan selalu dimulai dari bagian tanaman di dalam tanah. Pythium sp. menyebabkan tanaman menjadi layu dan kulit akar busuk basah. Disamping itu, daun atau tunas-tunas dapat terjangkit dengan gejala busuk coklat.
b)   Cara pengendalian :
1)      Tanaman yang terserang dibuang bersamaan dengan tanahnya.
2)      Mengatur kelembaban dengan mengurangi naungan dan penyiraman yang berlebihan.
3)      Jika serangan tinggi siram GLIO 1 sendok makan (± 10 gr) per 10 liter air.
4)      Sterillisasi biji benih dengan air panas 52oC selama 10 menit atau perendaman menggunakan Benomyl 2,5% selama 10 menit.
5)      Fumigasi dengan Methyl bromide, Metan sodium.
6)      Penyiraman menggunakan air yang tidak tercemar.
2.    Kresek Daun / Embun Bulu
a)    Gejala :
Pada tanaman yang terserang, akan tampak jamur berbulu halus (Plasmopara viticola), muncul sebagai bercak putih kuning pada permukaan atas daun yang lebih tua. Pada permukaan bawah, daun ditutupi dengan putih keabu-abuan, seperti kapas. Akan nampak jelas terlihat setelah hujan atau terkena air dan seperti hilang segera setelah cuaca panas. Jika penyakit terus berlangsung, daun berubah coklat dan renyah, kemudian rontok (meskipun tanaman memiliki cukup air).
b)   Cara pengendalian :
Cara terbaik untuk mencegah penyakit bulai atau embun bulu adalah dengan menghindari kondisi lingkungan yang mendukung tumbuh suburnya penyakit tersebut. Karena sifat cendawan umumnya menyukai kondisi lembab, maka usaha yang logis untuk menekannya adalah dengan menciptakan lingkungan yang tidak lembap di lahan kita sebisa mungkin, di samping melakukan terapi melalui produk fungisida.
1)   Bagian-bagian tanaman yang terlalu rimbun dipangkas, rumput/gulma di lahan dibuang. Tujuannya adalah untuk meningkatkan sirkulasi udara sehingga lahan tidak terlalu lembab.
2)   Penyiraman dilakukan di pagi hari sehingga bisa cepat mengering di siang hari. Penyiram pada waktu sore atau malam hari akan menciptakan lingkungan yang basah dan lembab. Penyiraman sebaiknya secukupnya saja (kapasitas lapang), tidak sampai berlebihan.
3)   Penyemprotan sebaiknya tidak dilakukan di malam hari akan menciptakan lingkungan yang lembab dan daun basah sepanjang malam.
4)   Daun atau bagian tanaman bagian bawah tidak menyentuh tanah sehingga tidak mudah terinfeksi.
5)   Jika memungkinkan tanaman yang terinfeksi serius dibuang dan dibakar, untuk mencegah penularan.
6)   Membuka pintu dan ventilasi, ketika kondisi  memungkinkan sehingga mendorong pergerakan udara.
7)   Untuk menghindari infeksi dari spora yang dorman di dalam tanah, dapat dilakukan dengan cara rotasi tanaman.
8)   menggunakan benih atau varietas unggul dan bersertifikat yang lebih tahan hama dan penyakit.
3.    Kelompok Virus
a)    Gejala :
Pertumbuhan bibit terhambat dan warna daun pucat. Gejala yang lebih jelas setelah tanaman berumur lebih dari 2 minggu.
b)   Cara pengendalian
Bibit yang terserang dicabut dan dibakar, semprot vektor virus dengan BVR atau PESTONA.
b.    Hama
1.    Thrips (Trips parvispinus)
a)    Gejala
Hama trips menghisap cairan permukaan bawah daun dan bunga. Tanaman cabai yang diserang trips ditandai oleh adanya bercak-bercak putih dan daun menjadi kriput. Pada serangan berat, daun pucuk dan tunas menggulung ke dalam, timbul benjolan seperti tumor, pertumbuhan tanaman terhambat kerdil dan bahkan pucuk mati. Hama trips dapat juga bertindak sebagai vektor penyakit virus mosaik dan virus keriting.

b)   Cara Pengendalian :
1)   Pengendalian dengan cara Kultur Teknis
a.    Penggunaan mulsa plastik yang dikombinasikan dengan tanaman perangkap caisin dapat menunda serangan yang biasanya terjadi pada umur 14 hari setelah tanam menjadi 41 hari setelah tanam.
b.    Membakar sisa jerami/mulsa yang dipakai setelah pertanaman.
c.    Sanitasi dan pemusnahan bagian tanaman yang diserang.
2)   Pengendalian Fisik Mekanis
a.    Persemaian cabai dikurung dengan menggunakan kain kasa untuk menekan serangan hama trips.
b.    Penggunaan perangkap Likat warna biru, putih atau kuning, sebanyak 40 buah perhektar atau 2 buah per 500m2 dipasang ditengah pertanaman sejak berumur 2 minggu. Setiap minggu perangkap diolesi oleh oli atau perekat. Perangkap likat dipasang dengan  ketinggian lebih kurang 50 cm (sedikit diatas tajuk tanaman).
3)   Pengendalian secara Hayati
Pemanfaatan musuh alami (predator) kumbang Coccinellidae coccinella repanda, Amblysius cucumeris, Oryus minutes, Arachnidea, dan patogen Entomophtora sp.
4)   Pengendalian secara kimiawi
Jika dengan cara lain tidak dapat menekan populasi hama Trips, pengendalian dapat menggunakan pestisida yang efektif, terdaftar, dan diizinkan oleh mentri Pertanian, misal bahan aktif imidakloprid Dagger 200L, Deltametrin Decis 2,5 EC, dsb.



2.    Kutu Daun Persik (Myzus persicae Suiz)
a)    Gejala :
1)        Kutu daun persik umumnya berwarna kuning kehijauan dan hidup bergerombol di belakang daun dekat tulang-tulang daun.
2)        Kutu ini mengisap cairan daun secara langsung, sehingga daun mengeriput, pertumbuhan jaringan daun terhambat kemudian layu dan mati.
3)        Kutu ini merupakan serangga vektor bagi berkembangnya penyakit virus seperti Potato Leaf Roll Virus dan Potato Virus Y pada tanaman cabai sehingga tanaman menjadi kerdil dan gagal membentuk buah.
4)        Serangan berat dari kutu dapat menyebabkan gagal panen.
5)        Hama cabai ini berkembang pada musim kemarau.
b)   Cara pengendalian  :
1)        Pengendalian dengan cara menanam tanaman perangkap (trap crop) di sekeliling kebun cabai seperti jagung.
2)        Pengendalian dengan kimia seperti Curacron 500 EC, Pegasus 500 SC, Decis 2,5 EC, Hostation 40 EC, Orthene 75 SP.
3)        Cara mekanik yaitu dengan memijit dengan menggunakan jari ke koloni kutu yang ditemukan.
3.    Tungau (Polyphagotarsonemus latus Bank dan Tetranyhus innabarinus Boisd)
a)    Gejala :
Gejala serangan tungau ini adalah adanya warna cokelat mengkilap di bagian bawah daun. Pada daun bagian atasnya ada dijumpai bercak kuning. Hama ini menyerang daun yang mengakibatkan daun menjadi kaku dan melengkung ke bawah. Pucuk daun seperti terbakar, tepi daun keriting. Kutu ini juga menyerang bunga, pentil dan buah. Tungau berukuran sangat kecil dan bersifat pemangsa segala jenis tanaman (polifag). Serangan yang berat terutama pada musim kemarau, menyebabkan cabai tumbuh tidak normal dan daun-daunnya keriting.
b)   Cara pengendalian :
1)        Pengendalian dapat dilakukan dengan insektisida seperti Omite 57 EC, Apollo 500 SC, Mitisun 570 EC, Merothion 500 EC, Sterk 150 EC, Mitac 200 EC, Curacron 500 EC, Agrimec 18 EC, Pegasus 500 EC.
2)        Hama ini dapat diatasi dengan cara mengumpulkan daun – daun yang terserang hama pada suatu tempat dan dibakar.
E.   Pembahasan
Setelah melakukan PKL di Trubus dapat diketahui perbedaan dan persamaan cara budidaya yang terdapat dalam pustaka dengan yang di terapkan di tempat praktek. Pada pembahasan ini yang akan dibahas berupa perbedaan-perbedaan yang terdapat dalam pustaka dengan yang dilakukan di tempat PKL.
Penggunaan bibit atau benih yang tidak baik, hasilnya juga tidak baik. Benih cabai yang berkualitas baik dan bersertifikat menentukan hasil yang akan didapat. Benih dapat diperoleh dari toko pertanian setempat baik berupa varietas lokal atau varietas impor. Bibit cabai juga dapat diperoleh dengan cara mengambil biji cabai itu sendiri. Selain pemilihan benih, faktor yang terpenting adalah pengolahan tanah dan pencampuran pupuk kandang dengan tanah untuk penyemaian benih atau bibit, pencampuran tanah dengan pupuk kandang dengan perbandingan 3:1. Pengolahan tanah dengan cara penyaringan dan memisahkan kotoran dengan tanah. Menggunaan pupuk kandang yang sudah matang, bila menggunakan pupuk kandang yang belum matang akan mempunyai resiko terhadap pertumbuhan dan perkembangan benih atau bibit tersebut.

Pembuatan lubang tanam pada polybag sedalam 1 - 1,5cm, apabila terlalu dalam membuat lubang tanam, biji cabai akan lama berkecambahnya dan bisa mengakibatkan biji cabai tidak berkecambah. Apabila pembuatan lubang tanam terlalu pendek, pada saat penyiraman biji cabai akan terangkat keluar dari tanah.
Meletakkan biji cabai kedalam lubang tanam 1 biji cabai 1 lubang dan menutupnya dengan ditaburi tanah dan tidak perlu ditekan atau dipadatkan, karena bisa menyebabkan biji cabai tersebut kesulitan untuk berkecambah dan bisa mengakibatkan biji cabai tersebut patah sebelum berkecambah.
Setelah penyemaian biji cabai selesai, polybag dipindahkan ketempat yang ternaungi dan bagian atas pada polibag ditutup oleh plastik, bertujuan untuk mengurangi penguapan atau menjaga kelembaban tanah. Setelah umur 3 sampai 6 hari cabai sudah mulai berkecambah, dan tutup plastik yang untuk menutupi polybag dilepas. Setelah bibit atau benih berumur 6 hari mulai penyortiran, memisahkan benih cabai yang sudah berkecambah dengan yang belum berkecambah. Penyortiran dilakukan mulai pada hari ke 3, dan  setiap hari dilakukan penyortiran sampai benih berumur 21 hari.  Umur  21 hari sudah dapat di pindah tanam.
Pada saat terjadi serangan hama dan penyakit umumnya yang menyerang tidak hanya satu macam, bisa dua atau tiga macam hama dan penyakit yang menyerang tanaman secara bersamaan. Pengendalian yang dilakukan di tempat praktek dengan menggunakan beberapa macam pestisida dengan tujuan agar dapat menghemat waktu, tenaga serta dalam satu kali kerja dapat mengendalikan berbagai hama dan penyakit yang menyerang secara bersamaan. Metode ini memiliki beberapa pertimbangan yang harus diperhatikan, karena tidak semua jenis pestisida yang dicampurkan akan saling bersinergi. Apabila kandungan bahan aktif dalam pestisida saling bersinergi akan meningkatkan efektifitas dalam mengendalikan berbagai hama dan penyakit dalam sekali kerja yang berarti menguntungkan. Akan tetapi jika bahan aktif yang ada di dalam pestisida bersifat antagonis menyebabkan tidak berfungsinya pestisida yang digunakan, sehingga tidak efektif dalam mengendalikan hama dan penyakit serta meningkatkan biaya produksi.
























BAB IV
KESIMPULAN

A.      Kesimpulan
Dari hasil PKL yang telah dilakukan, penulis dapat menyimpulkan beberapa hal sebagai berikut :
1.    kegiatan persemaian bibit atau benih cabai keriting meliputi pengolahan tanah, pencampuran tanah dengan pupuk kandang, persiapan benih, pembuatan lubang tanam pada polybag 1-1,5cm. Untuk menjaga pertumbuhan dilakukan perawatan yang meliputi: pengairan, penyortiran, serta pengendalian hama dan penyakit.
2.    Pengendalian hama dan penyakit menggunakan pestisida dan bila serangan parah dengan cara pemusnahan bibit atau benih.  
3.    Perbedaan antara teori dengan praktek terdapat pada cara pembenihan yang meliputi pengadaan benih, pembuatan media tanam, penanaman bibit secara langsung tanpa ditutupi plastik saat proses perkecambahan.
4.    Faktor pendukung dari kegiatan praktek di lahan yaitu ketersediaan air untuk penyiraman, iklim, tenaga kerja dan modal yang digunakan sebagai sarana produksi terpenuhi.
5.    Musim sangat berpengaruh pada pertumbuhan serta ikut berperan penting terhadap serangan hama dan penyakit pada tanaman cabai.

B.  Saran
Berdasarkan pengamatan selama praktek lapang, maka penulis menyarankan, sebaiknya penggunaan pestisida kimiawi harus diperhatikan dengan baik karena penggunaan pestisida kimiawi menyebabkan kesuburan tanah berkurang/tandus, berbagai organisme penyubur tanah musnah, tanah mengandung residu/endapan pestisida, keseimbangan ekosistem rusak, hasil pertanian mengandung residu pestisida, dan hama-hama akan resisten terhadap pestida.

DAFTAR PUSTAKA

Anonim, 2013, pendahuluan jurnal cabai, himagroubb.files.wordpress.com/.../pendahuluan-jurnd di akses kamis 6 juni 2013
Adhi Santika, 2008. Agribisnis Cabai. Jakarta: Penebar Swadaya.
Anonim, 2013. Aplikasi Perlakuan Permukaan Tanah dan Jenis Bahan Organic Terhadap Indeks Pertumbuhan Tanaman Cabai Keriting, http://jurnalfloratek.wordpress.com/tag/cabe-keriting/ di akses 6-6-13APLi di akses kamis 10 juni 2013
Anonim, 2009, Pembibitan Cabai Keriting, http://dilawimode.wordpress.com/2009/02/19/pembibitan-cabai-keriting/ di akses kamis 10 juni 2013
Cahyono, B. 2003. Teknik Budidaya dan Analisis Usahatani Cabai Keriting.  Kanisius : Yogyakarta.
Hadiyanto, I. 2005. Bertanam cabai. PT Musi perkasa utama: Jakarta.
Nurfalach, D. 2010. Budidaya Tanaman Cabai Keriting (Capsicum annum L.). http://eprints.uns.ac.id/8836/1/156592308201001241.pdf. Diakses pada tanggal 6 Desember 2013.
Prajnanta. F, 2008. Agribisnis Cabai Hibrida. Penebar Swadaya : Jakarta.
Rahman, S. 2010. Meraup Untung Bertanam Cabai Rawit dengan Polybag. Lily Publisher : Yogyakarta.
Rukmana, R, 2002. Usaha Tani Cabai Keriting. Kanisius : Yogyakarta.
Rambe, Y. 2013. Teknik Budidaya Cabe. http://yunusray.blogspot.com/2013/2/teknik-budidaya-cabe.html. Diakses pada tanggal 19 desember 2013.
Setiadi, 2006. Jenis dan Budidaya Cabai Keriting. Penebar Swadaya : Jakarta.
Soedarya, A. 2009. Agribisnis Cabai. CV. Pustaka Grafika, Bandung.

Tjahjadi, N. 1991. Bertanam Cabai. Penerbit Kanisius : Yogyakarta.
3

Looped Slider

Advertisement

ABOUT AUTHOR

Powered by Blogger.

Contact us